| dc.description.abstract |
Penelitian ini menganalisis konstruksi pemberitaan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami
selebgram Cut Intan Nabila pada media Kompas.com dan Detik.com dengan menggunakan model framing
Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Fokus penelitian berada pada bagaimana media membingkai realitas
kasus KDRT melalui empat elemen framing Pan dan Kosicki, yaitu syntax, script, thematic, dan rhetoric. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa Kompas.com cenderung menekankan aspek hukum dan kronologi kasus secara
objektif melalui penggunaan sumber resmi seperti kepolisian, jaksa, dan hakim. Narasi yang dibangun lebih
berorientasi pada data dan hasil persidangan, sehingga menghadirkan pemberitaan yang edukatif dan minim
sensasionalisme. Sementara itu, Detik.com lebih menonjolkan sisi emosional korban serta reaksi sosial dari
lembaga pemerintah maupun masyarakat, dengan pilihan diksi yang membangun empati. Perbedaan framing ini
mencerminkan orientasi masing-masing media di mana Kompas.com lebih berfokus pada aspek legal-formal dan
edukasi publik, sedangkan Detik.com pada human interest dan penguatan opini publik mengenai isu KDRT.
Dengan demikian, framing media berperan penting dalam membentuk cara masyarakat memahami isu KDRT,
baik dari sisi hukum maupun sisi kemanusiaan. |
en_US |